Jumat, 11 Maret 2011

Pemikiran Pendidikan ky. H. Ahmad Dahlan

PENDAHULUAN
K.H.Ahmad Dahlan salah satu tokoh pendidikan Islam yang terkenal. Ia hidup pada Zaman Belanda. Ia hidup di tengah-tengah keluarga yang alim ilmu agama. Ahmad Dahlan adalah tokoh penting yang tidak mengenyam pendidikan formal, meski seperti itu Ia gigih dalam belajar dan memperjungkan pendidikan Islam sehingga Ia mampu mendirikan suatu gerakan yang diberi nama Muhammadiyah.
Namun perjuangannya tidak hanya sampai di situ saja, ia terus menerus berupaya untuk membaharui dunia pendidikan Islam. Dalam makalah ini akan dibahas tentang biografi pendiri Muhammadiyah serta bagaimana pemikirannya tentang pendidikan.
A. Biografi K.H.Ahmad Dahlan
 Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1868 dan meninggal pada tanggal 25 februari 1923. Ia berasal dari keluarga yang didaktis dan terkenal alim dalam ilmu agama. Ayahnya bernama K.H.Abu bakar,beliau adalah seorang imam dan khatib Masjid besar Kraton Yogyakarta. Sementara ibunya bernama Siti Aminah, putri K.H.Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Kraton Yogyakarta .Nama kecilnya adalah Muhammad Darwis.
Semasa kecilnya Muhammad Darwis tak pernah pergi sekolah, ia adalah putra zaman peralihan abad XIX-XX, disaat seorang putra pemangku masjid kesultanan Yogya dianggap haram bersekolah formal { Belanda } . Oleh karena itu ketika menginjak usia sekolah Muhammad Darwis tidak disekolahkan melainkan diasuh dan dididik mengaji Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama islam oleh ayahnya sendiri di rumah. Pada usia 8 tahun ia telah lancar membaca Al-Qur’an hingga khatam. Menjelang dewasa ia mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama kepada beberapa ulama besar waktu itu, diantaranya ia belajar fiqih pada K.H.Muhammad Shaleh, dan nahwu kepada K.H.Muhsin, keduanya adalah kakak ipar Darwis sendiri. Selain itu ia juga belajar ilmu falak pada K.H.R Dahlan, belajar ilmu hadits kepada K.H.Mahfudz dan Syekh Khayyat Sattokh, Qira’at Qur’an kepada Syekh Amin dan Sayyid Bakri, serta beberapa guru lainnya. Dengan data ini, tak heran jika dalam usia relative muda ia telah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman. Ketajaman intelektualitasnya yang tinggi membuat Dahlan selalu merasa tidak puas dengan ilmu yang telah dipelajarinya dan terus berupaya untuk lebih mendalaminya.
Pada tahun 1889 M,ia dikawinkan dengan Siti Walidah putri K.H.Muhammad Fadil, kepada penghulu kesultanan Yogya. Jadi Siti Walidah itu masih saudara sepupu M.Darwis .
Setelah beberapa waktu belajar dengan sejumlah guru. Pada tahun 1890 M Darwis berangkat ke Makkah untuk melanjutkan studinya dan bermukim disana selama setahun .Setelah musim haji selesai ia pulang, dan tiba di Yogyakarta pada minggu pertama bulan safar 1309 H/ 1891 M. Dan berganti nama H.A.Dahlan. Merasa tidak puas dengan hasil kunjungannya yang pertama, maka pada tahun 1903 M, ia berangkat lagi ke Makkah dan menetap selama dua tahun . Di kota ini K.H.Ahmad Dahlan berhadapan langsung dengan tradisi pemikiran dan pembaharuan pemikiran islam ke Makkah.
Pengamatan langsung terhadap daerah pusat islam banyak mempengaruhi pemikiran K.H.A.Dahlan, sehingga mendorong keinginannya untuk melakukan gerakan pembaharuan islam di Indonesia. Intensitasnya dalam membaca majalah al manar dan beberapa majalah sejenis dari tanah Melayu dan Sumatra barat, yang banyak memuat ide-ide Muhammad Abduh, berpengaruh terhadap pemikiran K.H.A.Dahlan dari Yogyakarta, yang kemudian mendirikan gerakan Muhammadiyah Pada tahun 1912 M .
B. Pemikiran tentang Pendidikan
Hampir seluruh pemikiran Dahlan berangkat dari keprihatinannya terhadap situasi dan kondisi global umat islam waktu itu yang tenggeiam dalam kejumudan { stagnasi }, kebodohan, serta keterbelakangan. Kondisi ini semakin diperparah dengan politik colonial Belanda yang sangat merugikan bangsa Indonesia. Latar belakang situasi dan kondisi tersebut telah mengilhami munculnya ide pembaharuan Dahlan. Ide ini sesungguhnya telah muncul sejak kunjungannya pertama ke Makkah. Kemudian ide tersebut lebih dimantapkan setelah kunjungannya yang kedua. Hal ini berarti, bahwa kedua kunjungannya merupakan proses awal terjadinya kontak intelektualnya baik secara langsung maupu tidak langsung dengan ide-ide pembaharuan yang terjadi di Timur Tengah pada awal abad XX .
Secara umum, ide-ide pembaharuan Dahlan dapat diklasifikasikan kepada dua dimensi, yaitu:
  1. Berupaya memurnikan { purifikasi } ajaran islam dari Khurafat, tahayul dan bid’ah yang selama ini telah bercampur dalam akidah dan ibadah umat Islam.
  2. Mengajak umat Islam untuk keluar dari jaring terhadap doktrin Islam dalam rumusan dan penjelasan yang dapat diterima oleh rasio.
Sebenarnya usaha pembaharuan K.H.A.Dahlan sudah dimulai sejak 1896 yaitu dengan:
  1. Mendirikan surau yang diarahkan ke Kiblat yang betul dan berlanjut membuat garis shaf di Masjid Agung yang akibatnya tidak hanya garis shaf harus dihapus, tetapi suraunya dibongkar.
  2. Menganjurkan supaya berpuasa dan berhari raya menurut hisab .
Menurut Dahlan upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan . Oleh karena itu pendidikan hendaknya di tempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat. Mereka hendaknya dididik agar cerdas, kritis, dan memiliki daya analisis yang tajam dalam memeta dinamikan kehidupannya pada masa depan. Adapun kunci untuk meningkatkan kemajuan umat islam adalah kembali kepada Al-Qur’an dan hadits. Mengarahkan umat pada pemahaman ajaran Islam secara komprehensif, menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Upaya ini secara strategis dapat dilakukan melalui pendidikan.
Pelaksanaan pendidikan hendaknya didasarkan pada landasan yang kokoh. Landasan ini merupakan kerangka filosofis bagi merumuskan konsep dan tujuan ideal pendidikan Islam, baik secara vertikal { khaliq } maupun horizontal { makhluk }. Dalam pandangan Islam, paling tidak ada dua sisi tugas penciptaan manusia, yaitu sebagai ‘Abd Allah dan khalifah fi Al Ardh. Dalam proses kejadiannya, manusia diberikan Allah dengan Al Ruh dan Al Aql. Untuk itu, pendidikan hendaknya menjadi media yang dapat mengembangkan potensi Al Ruh untuk menalar petunjuk pelaksanaan ketundukan dan kepatuhan manusia kepada khaliknya.
Disini eksistensi akal merupakan potensi dasar bagi peserta didik yang perlu dipelihara dan dikembangkan guna menyusun kerangka teoritis dan metodologis bagaimana menata hubungan yang harmonis secara vertikal maupun horizontal dalam konteks tujuan penciptaannya. Meskipun dalam banyak tempat, Al-Qur’an senantiasa menekankan pentingnya penggunaan akal, akan tetapi Al-Qur’an juga mengakui akan keterbatasan kemampuan akal. Hal ini memiliki dua dimensi, yaitu fisika dan metefisika. Manusia merupakan integrasi dari kedua dimensi tersebut yaitu dimensi ruh dan jasad.
Batasan di atas memberikan arti, bahwa dalam epistemologi pendidikan Islam, ilmu pengetahuan dapat diperoleh apabila peserta didik { manusia } mendaya gunakan berbagai media, baik yang diperoleh melelui persepsi indrawi, akal, kalbu, wahyu maupun ilham. Oleh karena itu, aktifitas pendidikan dalam Islam hendaknya memberikan kemungkinan yang sebesar-besarnya bagi pengembangan kesemua dimensi tersebut.
Menurut A.Dahlan, pengembangan tersebut hendaknya merupakan proses integrasi ruh dan jasad. Konsep ini diketengahkannya dengan menggariskan perlunya pengkajian ilmu pengetahuan secara langsung, sesuai prinsip-prinsip Al-Qur’an dan sunah, bukan semata-mata dari kitab tertentu.
Upaya mengaktualisasikan gagasan tersebut bukan merupakan hal yang mudah, terutama bila dikaitkan dengan kondisi objektif lembaga-lembaga pendidikan Islam-Islam tradisional waktu itu. Dalam hal ini, Dahlan melihat bahwa problem epistemology dalam pendidikan Islam tradisional disebabkan karena idiologi ilmiahnya hanya terbatas pada dimensi religious yang membatasi diri pada pengkajian kitab-kitab klasik para mujtahid terdahulu, khususnya dalam madzhab Syafi’i. Sikap ilmiah yang demikian menyebabkan lahirnya pemikir yang tidak mampu mengolah dan menganalisa secara kritisilmu pengetahuan yang diperoleh, sehingga produktif dan kreatif terhadap perkembangan peradaban kekinian .
Untuk itu diperlukan kerangka metodologis yang bebas, sistematis, dan mengacu pada nilai universal ajaran Islam. Proses perumusan kerangka ideal yang demikian, menurut K.H.A.Dahlan disebut dengan Proses ijtihad yaitu mengarahkan otoritas intelektual untuk sampai pada suatu konklusi tentang berbagai persoalan. Dalam konteks ini, pendidikan merupakan salah satu bentuk artikulasi tajdid {modernisasi } yang strategis dalam memahami ajaran Islam { Al-Qur’an dan Hadits } secara proporsional,
C. Analisis
Bahwa sesungguhnya Dahlan mencoba menggugat praktek pendidikan Islam pada masanya. Pada waktu itu pelaksanaan pendidikan hanya dipahami sebagai proses pewarisan adat dan sosialisasi perilaku individu maupun social yang telah menjadi model baku dalam masyarakat. Pendidikan tidak memberikan kebebasan peserta didik untuk berkreasi, padahal menurut Dahlan pengembangan daya kritis, sikap dialogis, menghargai potensi akal dan hati yang suci, merupakan cara strategis bagi peserta didik mencapai pengetahuan tertinggi. Sesungguhnya Dahlan menginginkan pengelolaan pendidikan Islam secara modern dan professional, sehingga pendidkan yang dilaksanakan mampu
memenuhi kebutuhan peserta didik menghadapi dinamika zamannya. Dalam hal ini, setidaknya pemikiran pendidikan Dahlan dapat diletakan sebagai upaya sekaligus wacana untuk memberikan inspirasi bagi pembentukan dan pembinaan peradaban umat masa depan yang lebih proporsional.

Daftar Pustaka
Karim,Muhammad Rusli.Muhammadiyah dalam Kritik dan Komentar.1986.JAKARTA:Rajawali.
Ma’arif,Ahmad Syafi’i.Peta Bumi Intelektual Islam di Indonesia.1994.BANDUNG:Mizan.
Murodi.Sejarah Kebudayaan Islam.2004.SEMARANG:Toha Putra.
Noer,Deliar.Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942.1996.JAKARTA:LPES.
Pasha,Mushtofa Kemal dan A.Adaby Darban.Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam.2003.YOGYAKARTA:Pustaka Pelajar Offset.
Ramayulis dan Samsul Nizar.Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam.2005.CIPUTAT:Quantum Teaching.
Shadily,Hassan.Ensiklopedi Indonesia.JAKARTA:Ichtiar Baru-Van Hoeve.
Yunus,Muhammad.Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.1990.JAKARTA:Hidakarya Agung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar