Selasa, 12 Juni 2012

Konsepsi Moralitas dan Pendidikan Nilai


KONSEPSI MORALITAS DAN PENDIDIKAN NILAI
A. Konsepsi Moralitas
      1.            Kepatuhan Pada Hukum Moral
Konsepsi moralitas kepatuhan pada hukum moral mengandung tiga hal penting. Pertama, bidang moralitas berkisar pada tindakan manusia secara sukarela, yaitu tindakan yang merupakan hasil dari keputusan secara sadar. Kedua, tindakan tersebut selaras dengan keyakinan seseorang tentang kewajiban yang harus diemban. Ketiga, kewajiban seseorang, atau apa yang benar dan baik adalah yang tidak melanggar  hukum, dalam arti secara universal diatur oleh alam kehidupan manusia dalam masyarakat.
      2.            Konformitas pada Aturan Sosial
Konsepsi moralitas yang kedua berfokus pada cara manusia bertindak terhadap aturan-aturan sosial yang dipandang sangat serius. Konsepsi ini dapat dikatakan lebih kuno karena tidak membedakan moralitas dan kebiasaan sosial. Sebaliknya, konsepsi ini dapat dikatakan lebih modern karena munculnya ilmu-ilmu sosial telah mendorong banyak orang modern untuk mendukung relativisme kultural dalam moralitas, yang menghasilkan kepercayaan bahwa moralitas didasarkan pada kode tingkah laku apapun yang disetujui oleh suatu masyarakat.
      3.            Otonomi Rasional dalam Hubungan Antarpribadi
Konsepsi moralitas ini disebut juga formalisme. Menurut pandangan ini, istilah moralitas merujuk pada bentuk wacana rasional tertentu dalam kehidupan manusia, digunakan untuk menentukan yang baik dan yang harus dikerjakan. Bermoral berarti siap memberikan alasan bagi suatu tindakan tertentu, terutama tindakan yang memengaruhi hasrat orang-orang lain.
      4.            Otonomi Eksistensial dalam Pilihan seseorang
Formalismen dipandang hanya sebagai suatu inovasi yang canggih dari kerangka tradisional filosofis rasionalistik yang diduga keras merupakan bagian dari konsepsi universal. Konsepsi moralitas ini sangat mempertimbangkan persoalan pribadi dan menghargai keberadaan individu.

B. Alternatif Pendidikan Nilai
Pendidikan moral atau nilai dapat disampaikan dengan metode langsung atau tak langsung. Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik, sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian secara langsung pada ajaran tersebut, lewat mendiskusikan, mengilustrasikan, menghafalkan, dan mengucapkannya. Metode tak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang diinginkan, tetapi dengan menciptakan situasi yang menentukan perilaku yang diinginkan, tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku yang baik dapat dipraktekkan. Keseluruhan pengalaman di sekolah dimanfaatkan untuk mengembangkan perilaku yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar