Minggu, 21 Juli 2013

Faktor-faktor yang mempengaruhi Akhlak



Kehidupan muslim yang baik dapat menyempurnakan akhlaknya sesuai dengan telah dicantumkan oleh Nabi Muhammad SAW. Akhlak yang baik dilandasi oleh ilmu, iman, amal, dan takwa. Ia merupakan kunci bagi seseorang untuk melahirkan perbuatan dalam kehidupan yang diatur oleh agama.
Dengan ilmu, iman, amal dan takwa seseorang dapat berbuat kebaikan seperti sholat, puasa, berbuat baik sesama manusia. Sebaliknya tanpa ilmu iman dan takwa seseorang dapat berperilaku yang tidak sesuai dengan akhlakul karimah. Sebab ia lupa bahwa Allah yang telah menciptakannya. Keadaan demikian menunjukkan perlu adanya pembangunan iman untuk meningkatkan akhlak seseorang.
 1.      Tingkah Laku Manusia
Tingkah laku manusia ialah sikap seseorang yang dimanifestasikan dalam perbuatan, sikap perbuatan boleh jadi tidak di gambarkan dalam perbuatan atau tidak tercerminkan dalam perilaku sehari-hari.
Untuk melatih akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari misalkan dapat diterapkan dengan :
a.       Akhlak yang berhubungan dengan Allah
b.      Akhlak terhadap diri sendiri
c.       Akhlak terhadap keluarga
d.      Akhlak terhadap masyarakat
e.       Akhlak terhadap alam sekitar
Kecenderungan fitrah manusia untuk berbuat baik (hanif), dan secara fitrah manusia, seseorang muslim dilahirkan dalam keadaan suci.  Sebaliknya Allah membekali manusia di bumi dengan akal, pikiran, dan iman kepada-Nya. Keimanan itu dalam perjalanan hidup manusia dapat bertambah atau berkurang di sebabkan oleh pengaruh lingkungan hidup yang dialaminya.[1]
2.      Insting dan Naluri
Menurut bahasa insting berarti kemampuan berbuat pada suatu tujuan yang dibawa sejak lahir, merupakan pemuasan nafsu, dorongan, dorongan nafsu, dan dorongan psikologis. Insting juga  merupakan kesanggupan melakukan hal yang komplek tanpa di lihat sebelumnya, terarah kepada suatu  tujuan yang berarti bagi subjek  tidak  disadari langsung secara mekanis.
Menurut James, insting ialah suatu sifat yang menyampaikan pada tujuan dan cara  berfikir.[2] Insting merupakan kemampuan yang melekat sejak lahir dan dibimbing oleh nalurinya.
Insting pada intinya ialah suatu  kesanggupan untuk melakukan perbuatan yang tertuju kepada sesuatu pemuasan dorongan nafsu atau dorongan batin yang  telah  dimiliki manusia sejak lahir. Insting terdiri dari empat pola khusus yaitu:
a. Sumber insting. Sumber insting berasal dari kondisi jasmaniah, untuk melakukan kecenderungan, lama-lama menjadi kebutuhan.
b. Tujuan insting. Tujuan insting ialah menghilangkan rangsangan jasmaniah untuk menghilangkan perasaan tidak enak yang timbul karena adanya tekanan batin.
c.   Objek insting. Obyek insting merupakan segala aktivitas yang mengantar keinginan dan memilih-milih agar keinginannya dapat terpenuhi
d.      Gerak insting. Gerak insting tergantung kepada intensitas kebutuhan.
Dalam  ilmu akhlak insting berarti akal pikiran. Akal dapat memperkuat akidah, namun harus di topangi ilmu, amal dan takwa kepada Allah. Allah memuliakan akal dengan dijadikannya sebagai sarana tanggung jawab.[3]
Akal adalah jalinan pikir dan rasa yang menjadikan manusia,  berlaku, berbuat membentuk dan membina. Akal menjadikan manusia itu mukmin, muslim, muttaqin shalihin. Agama itu akal maka hanya  dengan akallah dapat memahami Allah, akal merupakan kunci untuk memahami Islam.[4]
Keadaan pribadi manusia bergantung pada asalnya terhadap naluri akal dapat menerima naluri tertentu, sehingga terbentuk kemauan yang melahirkan tindakan. Akal  dapat mengendalikan naluri sehingga terwujud perbuatan yang diputuskan oleh akal. Hubungan naluri dan akal membentuk kemauan. Kemauan melahirkan tingkah laku perbuatan naluri  yang ada pada diri seseorang adalah takdir Tuhan.[5]
3.      Nafsu
Nafsu berasal dari bahasa Arab, yaitu nafsun yang artinya niat.[6] Nafsu adalah keinginan hati yang  kuat. Nafsu  merupakan kumpulan dari amanah dan syahwat yang ada pada manusia.
Menurut Kartini Kartono nafsu ialah dorongan batin yang sangat kuat, yang memiliki kecenderungan yang hebat sehingga menganggu keseimbangan fisik.
Dilihat dari definisi diatas berarti nafsu ialah suatu gejolak jiwa yang selalu mengarah kepada hal-hal yang  mendesak, kemudian diikuti dengan keinginan-keiginan pada diri seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Nafsu selalu mendorong kepada hal yang negatif yang perlu diperbaiki dengan tazkiyat an-nafsi, maksudnya pembersihan jiwa yang juga meliputi pembinaan dan pengembangan jiwa.[7]
Nafsu-nafsu yang ada pada manusia ada  tiga yaitu:
a)  Nafsu Ammarah, yaitu yang melahirkan bermacam-macam keinginan  untuk dapat dipenuhi nafsu ini belum memperoleh pendidikan  dan bimbingan sehingga belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
b)  Nafsu Lawwamah,  yaitu nafsu yang menyebabkan manusia terlanjur untuk melakukan kesalahan dan menyesali perbuatan yang telah dilakukannya.
c) Nafsu Muthmainnah, yaitu nafsu yang telah mendapatkan tuntunan, bimbingan, pemeliharaan yang baik dan pendidikan. Nafsu ini dapat mendatangkan ketenangan batin melahirkan sikap akhlak yang baik dan selalu mendorong untuk melakukan kebajikan dan menjauhi maksiat.[8] Yang disebabkan oleh meningkatkannya energi pada tubuh.

4.      Adat dan Kebiasaan
Adat menurut bahasa ialah aturan yang lazim diikuti sejak dahulu.  Biasa adalah kata dasar yang mendapat imbuhan ke-an, artinya boleh, dapat atau sering. Menurut Nasraen, adat itu ialah suatu pandangan hidup yang mempunyai ketentuan-ketentuan yang obyektif kokoh dan benar serta mengandung nilai mendidik yang besar terhadap seseorang dalam masyarakat.[9]
Kebiasan terjadi sejak lahir. Lingkungan yang baik mendukung kebiasaan yang baik pula. Kebiasaan adalah rangkaian perbuatan yang dipengaruhi akal pikiran. Pada permulaan sangat dipengaruhi akal pikiran. Pada permulaan sangata dipengaruhi pikiran. Tetapi makin lama pengaruh pikiran itu makin berkurang karena seringkali dilakukan. Kebiasaan merupakan kualitas kejiwaan,  keadaan yang  tetap, sehingga memudahkan pelaksanaan perbuatan.
Menurut  Soerjono Soekanto, kebiasaan sebagai perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama dan kebiasaan ialah tingkah laku yang sudah distabilkan. Umumnya pembentukan kebiasaan itu di bantu oleh refleksi-refleksi, maka refleksi itu menjadi khas dasar bagi pembentukan kebiasaan. Dan pada akhirnya kebiasaan itu berlangsung otomatis dan mekanis terlepas dari pemikiran dan kesadaran,  namun sewaktu-waktu pikiran dan  kesadaran itu bisa difungsikan lagi untuk memberikan pengarahan baru bagi pembentukan kebiasaan baru.
5.      Lingkungan
Lingkungan ialah ruang lingkup luar yang berinteraksi dengan insan yang dapat berwujud benda-benda seperti air, bumi, langit dan matahari. Lingkungan dapat memainkan peranan dan pendorong terhadap perkembangan kecerdasan, sehingga manusia dapat mencapai taraf yang setinggi-tingginya dan sebaliknya.[10]
Lingkungan ada dua jenis yaitu:
1)      Lingkungan Alam.
Alam ialah seluruh ciptaan Tuhan baik dilangit dan dibumi selain Allah. Alam dapat menjadi aspek yang memengaruhhhi dan menentukan tingkah laku manusia.
2)      Lingkungan Pergaulan
Lingkungan ini mengandung pergaulan meliputi lingkungan rumah, sekolah, tempat kerja, singkatnya bahwa lingkunganlah yang banyak membentuk kemajuan pikiran dan kemajuan teknologi, namun juga dapat menjadikan  perilaku baik dan buruk.
Lingkungan merupakan salah satu faktor pendidikan  Islam yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap anak didik.  Lingkungan yang dapat memberi pengaruh terhadap anak didik dapat di bedakan menjadi tiga kelompok, yaitu :
1)      Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama
2)      Lingkungan yang berpegang teguh kepada tradisi agama
3)    Lingkungan yang mempunyai tradisi agama dengan sadar dan hidup dalam lingkungan agama.[11]
Oleh karena itu, lihatlah dengan siapa berhubungan, dimana beradaptasi, akal harus dapat membedakan dan menempatkannya sesuai fitrah manusia.
 Baca juga artikel yang lain:




[1]Zakiyah Daradjat, Dasar-dasar Agama Islam, (Jakarta:  Universitas Terbuka, 2002), hlm.273.
[2] Ahmad Amin, Etika Ilmu Akhlak, (Jakarta: Bulan  Bintang,  1996), hlm. 13.
[3] Syekh Hasan Al-Banna, Aqidah Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1983), hlm. 9.
[4] Jujun S.  Surya Sumantri, Filsafat,  (Jakarta: Total Grafika Indonesia, 2003), hlm. 167.
[5] Sidi Gazalba, Asas Kebudayaan Islam, (Jakarta:  Bulan Bintang,  1978), hlm.  111.
[6] Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggaraan Penerjemah, 1998), hlm. 124.
[7] Af. Jaelani, Penyucian Jiwa Mental, (Jakarta: Amzah, 2000), hlm. 44.
[8] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung:  Pustaka Setia,  1998), hlm. 122.
[9] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1990),  hlm.  32.
[10] Zakiyah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm.55.
[11] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm.  175.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar